- 23.46
- 0 Comments
- 17.09
- 0 Comments
- 16.21
- 0 Comments
Sebenarnya untuk anak Jakarta sendiri sudah ada ajang Jakarta Fashion Week (JFW) yang menjadi event fashion tahunan yang gegap gempita, namun biaya yang sangat mahal (ratusan juta untuk berpartisipasi) guna mengikuti event berkelas Internasional tersebut, menjadi hal yang tidak mudah dijangkau oleh banyak anak muda, terutama dari wilayah pinggiran.
Tetapi kali ini anak Jakarta harus mengakui, mereka kalah kreatif dengan anak-anak Citayam dalam menghidupkan kembali gaya street style -- anak-anak muda yang berhasil membuat heboh dan viral ke seluruh pelosok negeri dengan Citayam Fashion Week mereka.
Perubahan kebijakan pemda yang merestorasi ruang publik dan sidewalks, bisa jadi menjadi salah satu trigger atau pemicu kembalinya tren street style di banyak kota di Indonesia. Revitalisasi area Taman Menteng, Sudirman, Kemang di Jakarta,kawasan Tunjungan di Surabaya, di kawasan Malioboro di Jogja yang dibebaskan dari pedagang kaki lima, atau kawasan Kayutangan di Malang, yang diperbaiki lebih cantik area pedestriannya, revitalisasi tersebut menjadi faktor pendukung kembalinya ruang publik yang bisa diakses oleh semua orang.
Jika diseriusi, sebenarnya area sidewalk, atau menutup jalanan untuk mobil dan menjadikannya area khusus pejalan kaki membawa banyak keuntungan bagi seluruh warga kota. Studi di Eropa by Eltis (bisa dilihat di sini) mengatakan bahwa Total biaya yang dikeluarkan oleh Uni Eropa untuk pengendara mobil adalah sekitar 500 milliar Euro, namun jika diconvert menjadi area pejalan kaki justru menghasilkan benefits senilai 66 milliar Euro dan jika dirubah menjadi area sepeda benefitnya adalah 24 milliar Euro.
CFW memang terlihat seperti tumbuh organik, anak muda yang didominasi Gen Y (lahir antara tahun 1981 - 1995) dan Gen Z (lahir antara tahun 1996 - 2012) dari kawasan suburban yang tidak memiliki tempat "ideal" di Citayam untuk menyalurkan hasrat untuk berkumpul di tempat keren -- rela naik KRL dari stasiun Citayam selama 1 jam 37 menit, menuju kawasan dekat stasiun Dukuh Atas Jakarta -- yang lebih tertata rapi dengan suasana ala kota besar.
Namun ada berita lain yang mungkin menambah bumbu CFW semakin menarik, bahwa kota Depok ingin bergabung dengan DKI Jakarta, tak dipungkiri berita ini menjadi amunisi pendorong bagi anak-anak muda Citayam -- seperti snowball effect (efek bola salju) di berita nasional yang membuat mereka semakin dikenal masyarakat luas.
Harajuku, Tokyo, Jepang.
Majalah Fruits Jepang berusaha menangkap fenomena ini dan menjadikannya bacaan "wajib" buat anak muda yang suka hal-hal berbau Harajuku. Kawasan sekitarnya seperti Omotesando Street, Takeshita Street, Yoyogi Park menjadi lokasi strategis bagi label fashion yang ingin masuk ke dunia anak-anak muda tersebut.
Image: Lolita Style, a Victorian era inspired style.
Image: Punk Style. Memori akan masa ketenaran Punk-Rock style, menjadi simbol dan inspirasi desain anak muda yang ingin "memberontak". Jaket kulit, sepatu boots, anting-anting, zippers menjadi menu wajib.
Image: Decora Style - menampilkan kesan Kawaii atau cute atau imut, baju warna-warni dan tabrak warna menjadi sesuatu yang menarik.
Image: Gyaru Style. Atau gaya anak cewek sekolahan, kata ini berasal dari bahasa Inggris "Gal" yang dieja orang Jepang menjadi Gyaru - karikatur tipikal anak muda Amerika.
Carnaby Street, London, UK.
Tentu di kota-kota besar lainnya di dunia, fenomena serupa mungkin telah banyak terjadi, mulai dari Madrid, Los Angeles, Budapest, Moskow, Buenos Aires, Rio de Janeiro, dll. nanti akan dibahas lebih detail lagi dalam artikel terpisah.
Fashion: Rebel Culture & Creative Industry.
Jeans awalnya digunakan oleh para pelaut Genovese (Genoa) medio tahun 1500-an, kemudian ditiru oleh orang Eropa lainnya, dan akhirnya dibawa ke Amerika Serikat. Tahun 1873, Levi Strauss dan Jacob Davis mendapatkan hak paten "celana petani" tersebut -- celana jeans yang diperkuat dengan metal rivets supaya lebih durable atau tahan lama, untuk digunakan di lahan-lahan pertanian ataupun area pertambangan.
Namun setelah aktor Amerika terkenal tahun 1950-an - James Dean, menggunakan celana ini dalam film Rebel Without A Cause, kepopuleran Jeans langsung meledak. Simbol anti-kemapanan langsung melekat di celana Jeans dan sampai sekarang menjadi celana normal sehari-hari untuk pergi ke mall, sekolah maupun ke kantor - hal yang tadinya tabu menjadi sebuah hal normal.
Sebelum celana Jeans, kategori celana itu sendiri awalnya adalah hal tabu untuk digunakan oleh wanita di masa lalu. Di awal abad ke-20, "fashion normal" yang menjadi value saat itu adalah wanita harus menggunakan rok panjang. Tahun 1930-an larangan tidak resmi tersebut "ditabrak" oleh artis jaman tersebut Marlene Dietrich dan Katherine Hepburn, dan baru tahun 1960-an desainer dunia mulai mengadopsi gaya celana panjang untuk wanita pada umumnya dan di tahun 1970-an baru celana panjang/trousers bisa diterima banyak kalangan untuk digunakan di sekolah maupun kantor.
Surprised? Tentu hal ini akan terus berputar kembali - tren fashion seperti roda sepeda yang menunggu momen untuk berada di posisi tertentu. Rebel Fashion pun batasannya menjadi semakin blur atau tidak jelas, desainer dunia saat ini tidak segan-segan untuk mengadopsinya menjadi tren fashion dan didorong menuju ke mainstream fashion.
Di level yang lebih tinggi, fashion apalagi baju yang kita pakai di badan adalah sebuah personal statement - sebuah extension yang menunjukkan gaya hidup tertentu, ketertarikan/interest, dan juga nilai-nilai yang dianut. Citayam Fashion Week hanyalah salah satu puncak gunung es - di bawahnya ada ruang-ruang publik yang ingin diakses dengan mudah dan gratis oleh masyarakat Indonesia, ruang-ruang ini telah disita oleh shopping mall, perumahan ruko-ruko dan kawasan komersial lainnya. Anak-anak muda ini memberontak, ingin menunjukkan bahwa mereka juga berhak untuk mengekspresikan keinginan mereka di tengah himpitan hidup dan ruang yang semakin terbatas.
- 19.28
- 0 Comments
Praktisi Marketing yang sedang sibuk mengurusi day-to-day operation kadang memang perlu sedikit menengok keluar, dan selalu meng-update apa yang terjadi di dunia marketing. Nah tahun lalu, konsep baru dengan jargon yang cukup bombastis "FLYWHEEL MARKETING" mulai terdengar dibicarakan masif di Indonesia. Untungnya, karena pernah berkecimpung di dunia otomotif, maka konsep flywheel atau roda gila ini langsung terbayang di kepala.
Jika ditelaah dari konsep fisika, roda gila ini bisa "menyimpan" tenaga putaran dari piston mesin, membuatnya lebih stabil dan juga menyalurkan tenaga ke mesin ke arah transmisi dan roda kendaraan.
Hal ini mungkin yang terbayang di kepala Jim Collins di bukunya yang fenomenal Good to Great tahun 2001, setelah meneliti kurang lebih 6.000 artikel, 2.000 interview dan data lainnya dan menjadi rujukan klasik manajemen bisnis.
Konsep Flywheelnya Jim Collins ini yang kemudian menjadi pondasi dari konsep FlyWheel Marketing.
Sekilas, konsep Sales Funnel ini terlihat monoton, seperti berurutan dari lead generation sampai jadi sales dan customer seolah-olah diletakkan di ujung. Padahal dulu, berdasarkan pengalaman di Volkswagen dan UNIQLO, hal ini tidaklah sepenuhnya benar, karena di dalam marketing & sales funnel itu juga sebenarnya terjadi "FlyWheel-FlyWheel" kecil, dan customer memang menjadi centernya. Seperti tahap "Attract" di konsep flywheel atau di dalam "Marketing Funnel" itu Lead Generation, keduanya berada dalam posisi yang sama: bagaimana caranya mendapatkan perhatian calon customer dan mengikat mereka lebih jauh ke "dalam": mulai membuatnya tertarik, mencoba produk, membeli, dan menjadi pelanggan loyal.
Hanya bedanya, saat customer sudah menjadi pelanggan, ini yang menjadi problem konsep Marketing Funnel, tidak digambarkan seacara lengkap dalam bagan/chart. Sehingga terlihat setelah prospek menjadi customer, seolah sudah selesai. Padahal, dalam kenyataan operasionalnya, tidaklah demikian, karena yang digunakan adalah tools yang berbeda - dari Marketing Funnel ke CRM misalnya atau tools customer loyalty management yang lain seperti brand advocacy, dll.
Catatan Penting
Catatan 1: Friction Concept
Di dalam konsep FlyWheel ini, ada satu hal yang paling penting sebenarnya, yang mungkin luput dari pandangan marketer. Yaitu Friction, gesekan-gesekan atau halangan yang membuat roda flywheel ini tidak bisa berjalan mulus.
Dalam prakteknya, friksi ini jarang dibahas dalam konsep khusus, tetapi dibahas detail sekali di dalam rapat-rapat Marketing, Sales dan Management. Misalnya di Volkswagen, kendala financing dan garansi menjadi friksi yang bisa membuat customer membatalkan transaksi pembelian. Atau jika di UNIQLO, ada meeting setiap minggu yang membahas detail mengapa item ini bisa menjadi best seller, dan ada item lain yang tidak jalan sama sekali. Friction lainnya misalnya size baju yang tidak lengkap (fragmented size) di store yang membuat customer menjadi menunda atau membatalkan transaksi belanjanya untuk item tertentu.
Catatan 2: Applicable Concept
Konsep Friction dan Customer Loyalty Management ini memang bisa tergambar terintegrasi di dalam FlyWheel Marketing, mudah untuk menjelaskannya ke staff marketing dan stakeholders lainnya di dalam perusahaan. Jadi secara praktek, konsep FlyWheel ini ini memang awalnya terlihat membingungkan, tapi akan menjadi lebih mudah dimengerti saat dijelaskan.
Mindset perusahaan dan karyawan yang berubah, tentunya akan membawa dampak positif ke kinerja perusahaan.
Catatan 3: Tentu saja Flywheel saja tidak membuat mobil bisa berjalan, harus berkolaborasi dengan komponen lain di perusahaan atau tools marketing yang lain.
Misalnya Capital atau modal: mau konsep sejenius mungkin tidak akan berjalan jika tidak ada modal untuk melakukannya. Ini contoh nyata seperti kerjasama antara Piston dan Flywheel di dalam mobil, jika flywheel atau roda gilanya sudah berjalan efisien, tentu tidak akan sempurna jika piston dan ruang bakar tidak bekerja sempurna, ruang bakar dan piston ini ditenagai oleh bensin/bahan bakar atau dalam konsep perusahaan adalah capital/modal.
Dan juga komponen lainnya, seperti AC, pengendara/driver, radiator, lampu depan, busi, dll. yang membuat sebuah mobil bisa berjalan sempurna. Banyak konsep marketing lain yang bisa diintegrasikan atau bagian lain dalam perusahaan yang juga dilibatkan secara menyeluruh sehingga bisa bergerak seirama.
Jadi perluas mindset juga, konsep Marketing Flywheel ini bisa menjadi awal yang bagus untuk membuat semua komponen dalam perusahaan berjalan bersama-sama menjadi perusahaan yang besar dan kuat. Seperti yang telah diriset dan ditulis oleh Jim Collins di atas dan seperti Amazon yang menjadi perusahaan raksasa ritel di dunia.
- 03.32
- 0 Comments


















































